Hidup adalah belajar
Belajar bersyukur meski tak cukup
Belajar memehamai meski tak sehati
Belajar ikhlas meski tak rela
Belajar sabar meski terbebani
Belajar dan terus belajar
dengan keyakinan setegar karang
Belajar menjadi lebih baik
Belajar menjadi yang terbaik
Eiyōshi
Selasa, 14 Februari 2012
Lernen
Label:
Inspirasi
Lokasi:
Jember, Patrang, Indonesia
Dimana Rumahmu, Nak ?
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana.
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat.
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak?
Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.
Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak?
Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku, kita memang berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini.
Tapi kini dimanakah rumahmu nak?
Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini.
Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu.
Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu.
Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu.
Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline.
Padahal, andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.
Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak.
Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu.
Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu.
Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu?
Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak?
Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.
Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu.
Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan.
Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?
bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu.
Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.
Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.
Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.
Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.
Tak ada cita-cita untuk ibumu ini.
Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku.
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.
Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu?
Dimana profesionalitasmu untuk keluarga?
Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat?
Ah, waktumu terlalu mahal nak .
Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya.
Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik .
Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik.
Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan.
Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini.
Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.
Karena tanpa ridhamu, Mustahil kuperoleh ridhaNya…”
NB.
For my mum,
maafkan anakmu, jika selama ini berbuat salah kepadamu
terima kasih atas untaian nasihat yg telah diberikan kepadaku
Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana.
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat.
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak?
Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.
Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak?
Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku, kita memang berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini.
Tapi kini dimanakah rumahmu nak?
Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini.
Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu.
Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu.
Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu.
Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline.
Padahal, andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.
Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak.
Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu.
Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu.
Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu?
Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak?
Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.
Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu.
Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan.
Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?
bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu.
Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.
Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.
Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.
Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.
Tak ada cita-cita untuk ibumu ini.
Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku.
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.
Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu?
Dimana profesionalitasmu untuk keluarga?
Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat?
Ah, waktumu terlalu mahal nak .
Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya.
Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik .
Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik.
Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan.
Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini.
Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.
Karena tanpa ridhamu, Mustahil kuperoleh ridhaNya…”
NB.
For my mum,
maafkan anakmu, jika selama ini berbuat salah kepadamu
terima kasih atas untaian nasihat yg telah diberikan kepadaku
Do'a
Bismillahirrahmanirrahim ...
Saat waktu beranjak malam, rasanya kita telah mengukir banyak aktivitas dalam waktu yang telah berlalu pada hari ini. Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Beragam aktivitas yang dijalani oleh setiap orang. Aktivitas makan, belajar, bekerja, hingga beribadah.
Hmm.., beribadah ..
Satu aktivitas yang wajib dijalankan oleh setiap hambaNya. Kewajiban yang dijalankan dengan penuh kesadaran, termasuk berdo'a. Menggantungkan harapan, maupun diri kita seutuhnya pada Sang Pencipta. mengadu kepada Sang Pengurai Setiap Permasalahan. Memohon kepadaNya atas segala pinta kita, Merengek atas segala keresahan yang dialami.
Beruntunglah kita memiliki dan percaya terhadap keberadaanNya. sebab, kita tidak sendiri dalam menjalani kehidupan ini. Bahkan saat kita mersa kerdil, miskin, dalam keadaan papa, kita masih punya Allah SWT, Pemilik Setiap Jiwa Yang Maha Kaya, Maha Pemurah.
Dia yang menjadi segala tumpuan do'a yang dipanjatkan.
Dia yang Maha Bijaksana dalam segala keluh kesah kita.
Dia Sang Pemilik Segenap Jiwa di muka bumi ini.
Dia yang Tak Pernah Lelah Mendengarkan segala keluhan, curahan hati, pengaduan, pinta hingga harapan - harapan kita.
Dia yang Senang Hati mendengarkan sepanjang hari, sepanjang malam, setiap waktu.
Alhamdulillah, Rabb bersama kita dalam menapak hari - hari esok, meringankan beban yang kita panggul, menumbuhkan harapan, karena Dia yang memungkinkan sesuatu yang mustahil, menciptakan segala sesuatu untuk hambaNya.
Ya Rabb ..
Terima kasih ...
atas ketenangan yang Engkau berikan, sehingga kami tidak merasa resah.
atas harapan yang selalu ada, sehingga kami bisa optimis.
atas segala keajaiban, menggantikan rasa mustahil yang timbul dalam diri kami.
YA RAbb ..
hanya kepadaMu kami meminta
hanya kepadaMu kami memohon
hanya kepadaMu kami mengadu
hanya kepadaMu kami mengganttungkan segala harapan
Saat waktu beranjak malam, rasanya kita telah mengukir banyak aktivitas dalam waktu yang telah berlalu pada hari ini. Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Beragam aktivitas yang dijalani oleh setiap orang. Aktivitas makan, belajar, bekerja, hingga beribadah.
Hmm.., beribadah ..
Satu aktivitas yang wajib dijalankan oleh setiap hambaNya. Kewajiban yang dijalankan dengan penuh kesadaran, termasuk berdo'a. Menggantungkan harapan, maupun diri kita seutuhnya pada Sang Pencipta. mengadu kepada Sang Pengurai Setiap Permasalahan. Memohon kepadaNya atas segala pinta kita, Merengek atas segala keresahan yang dialami.
Beruntunglah kita memiliki dan percaya terhadap keberadaanNya. sebab, kita tidak sendiri dalam menjalani kehidupan ini. Bahkan saat kita mersa kerdil, miskin, dalam keadaan papa, kita masih punya Allah SWT, Pemilik Setiap Jiwa Yang Maha Kaya, Maha Pemurah.
Dia yang menjadi segala tumpuan do'a yang dipanjatkan.
Dia yang Maha Bijaksana dalam segala keluh kesah kita.
Dia Sang Pemilik Segenap Jiwa di muka bumi ini.
Dia yang Tak Pernah Lelah Mendengarkan segala keluhan, curahan hati, pengaduan, pinta hingga harapan - harapan kita.
Dia yang Senang Hati mendengarkan sepanjang hari, sepanjang malam, setiap waktu.
Alhamdulillah, Rabb bersama kita dalam menapak hari - hari esok, meringankan beban yang kita panggul, menumbuhkan harapan, karena Dia yang memungkinkan sesuatu yang mustahil, menciptakan segala sesuatu untuk hambaNya.
Ya Rabb ..
Terima kasih ...
atas ketenangan yang Engkau berikan, sehingga kami tidak merasa resah.
atas harapan yang selalu ada, sehingga kami bisa optimis.
atas segala keajaiban, menggantikan rasa mustahil yang timbul dalam diri kami.
YA RAbb ..
hanya kepadaMu kami meminta
hanya kepadaMu kami memohon
hanya kepadaMu kami mengadu
hanya kepadaMu kami mengganttungkan segala harapan
Langganan:
Postingan (Atom)

